Admin

28 Januari 2026

6 melihat

Pemajuan Kebudayaan Samarinda Kian Menguat, S2 Kajian Budaya FIB Unmul Turut Berperan

Samarinda, 28 Januari 2026 — Wajah Kota Samarinda kini semakin menunjukkan identitas sebagai kota berbudaya. Hal tersebut disampaikan oleh Alamsyah, Ph.D, narasumber dalam program Siaran Berjaringan: Pesona Budaya Borneo di RRI Pro 4 Samarinda dengan tema “Pemajuan Kebudayaan di Samarinda.”

Menurutnya, perkembangan Samarinda terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi masa lalu. Salah satu contohnya adalah kawasan Citra Niaga yang kini telah dilengkapi museum dan ruang publik yang menjadi pusat aktivitas budaya. Jika sebelumnya kawasan tersebut hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, kini juga menjadi ruang edukasi dan hiburan masyarakat.

 

 

 

“Kebijakan pemerintah daerah dalam pelestarian budaya sudah bisa terlihat ya, contohnya setiap malam Minggu di Teras Samarinda selalu ada festival budaya yang menghibur masyarakat sekaligus memperkuat identitas lokal,” ucapnya.

Alamsyah menambahkan, keberadaan museum juga menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam memberdayakan kebudayaan. Melalui museum, masyarakat dapat melihat langsung kebijakan dan program yang telah dijalankan untuk menjaga warisan budaya.

Ia juga menilai, potensi budaya paling signifikan di Samarinda saat ini adalah sektor kuliner. Fasilitasi pusat UMKM kuliner di berbagai titik kota dinilai sangat membantu dalam melestarikan budaya lokal  “Kalau kita ke kawasan Lambung Mangkurat, banyak nasi kuning. Di Banjarsari juga banyak makanan khas Kutai dan Banjar. Ini menunjukkan bahwa mencari kuliner khas Samarinda sangat mudah dan sudah menjadi identitas kota,” jelasnya.

Selain kuliner, keberagaman etnik di Samarinda juga dinilai masih kuat dalam menjaga dan mempromosikan budaya masing-masing.

Dari sisi akademisi, Alamsyah menjelaskan bahwa kurikulum terus disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Penyusunan kurikulum dilakukan melalui lokakarya dan masukan dari alumni serta pemangku kepentingan. Khususnya untuk Program Magister Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman.

“Kami memiliki mata kuliah pilihan seperti seni budaya. Di dalam mata kuliah itu juga terdapat sub-sub yang didalamnya juga diarahkan untuk mengkaji topik-topik seperti kuliner sebagai bagian dari kajian budaya,” katanya.

Terkait pengaruh globalisasi dan budaya asing, Alamsyah mengakui bahwa popularitas budaya luar, seperti budaya Korea, turut memengaruhi generasi muda. Namun menurutnya, hal tersebut tidak dapat dihindari.

“Kita tidak bisa menutup diri dari budaya luar. Yang terpenting adalah bagaimana kita menguatkan keunikan budaya sendiri. Budaya Indonesia, termasuk di Samarinda, memiliki kekhasan yang tidak dimiliki negara lain,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya ruang ekspresi bagi generasi muda. Kegiatan seperti festival budaya, lomba tari, dan workshop di ruang publik seperti Teras Samarinda dinilai mampu menjadi wadah pengembangan bakat anak-anak dan remaja. Namun, ia mengingatkan masih adanya kendala, terutama dalam dunia pendidikan. Ia mencontohkan kegiatan ekstrakurikuler seni yang masih berbayar.

“Banyak anak yang punya bakat luar biasa, tetapi tidak mampu membayar. Jika ini terus terjadi, potensi budaya tidak akan terekspos secara maksimal. Perlu perhatian dan dukungan regulasi dari pemerintah,” ujarnya.

Dalam pengembangan produk budaya, Alamsyah mendorong inovasi, termasuk dalam bidang fesyen. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan Sarung Samarinda sebagai bahan busana modern agar lebih diminati generasi muda.

Ia juga menekankan pentingnya peran media sosial dan content creator lokal dalam mempromosikan budaya Samarinda. Menurutnya, generasi muda memiliki peluang besar untuk memperkenalkan budaya lokal ke tingkat nasional bahkan internasional melalui platform digital.

Dengan berbagai upaya tersebut, ia berharap Samarinda dapat semakin dikenal sebagai kota yang berbudaya, kreatif, dan mampu menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi.