FIB Unmul Sukses Gelar Bazar Humaniora, Terapkan Teori KWU Lewat Aksi Nyentrik
Samarinda, 22 Mei 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman sukses menyelenggarakan Bazar Humaniora yang berlangsung selama dua hari di Lapangan FIB Unmul pada Kamis hingga Jumat (21-22/5/2026).
Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. Mardliya Pratiwi Zamruddin, S.S., M.A. Turut hadir dalam pembukaan tersebut jajaran dosen, para Ketua Program Studi, serta staf akademik. Acara juga diawali dengan sambutan dari dosen pendamping, Bapak Zamrud Whidas Pratama, S.Pd., M.Sn., guna memberikan dukungan penuh serta memeriahkan jalannya kegiatan.
Bazar Humaniora merupakan event tahunan di lingkungan FIB yang kali ini tampil beda dengan mengusung konsep unik dan nyentrik. Acara ini diikuti oleh total 39 kelompok stan yang seluruhnya berasal dari internal mahasiswa FIB yang sedang menempuh mata kuliah Kewirausahaan (KWU).
Bazar berlangsung dari pagi hingga sore hari dengan membagi para peserta ke dalam dua hari pelaksanaan, di mana setiap harinya sekitar 20 kelompok secara bergantian menjajakan beragam produk kreatif mahasiswa yang sangat bervariasi, antara lain:
- Makanan ringan hingga makanan berat
- Minuman segar
- Aksesoris dan kerajinan tangan
- Pakaian bekas layak pakai (preloved)
Tidak hanya menyajikan produk wirausaha, suasana bazar juga semakin meriah dengan hadirnya lebih dari 12 penampilan panggung dari 4 lintas program studi, beberapa di antaranya yaitu:
- Drama musikal dari mahasiswa Sastra Indonesia
- Penampilan band Utthana dari program studi Etnomusikologi
- Dance drama Aespa dari mahasiswa Sastra Inggris
Ketua Panitia Bazar, Andini Elga Prastika, menjelaskan bahwa acara ini digelar bukan sekadar sebagai hiburan kampus, melainkan memiliki tujuan serta manfaat akademis yang besar bagi mahasiswa FIB.
“Bazar Humaniora merupakan proyek kewirausahaan mahasiswa sekaligus bentuk implementasi langsung dari teori yang didapat di kelas. Bazar ini menjadi tugas akhir atau Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Kewirausahaan (KWU),” ujar Andini.
Terkait konsep acara yang tidak biasa dan terkesan nyentrik, Andini mengaku hal tersebut merupakan kreativitas yang sengaja dihadirkan oleh tim panitia. “Untuk tema bazar tahun ini sebenarnya tidak ada alasan khusus, karena saya suka yang nyentrik saja,” tambahnya.
Setelah dua hari pelaksanaan yang padat, pihak panitia langsung menggelar agenda evaluasi internal untuk mencatat poin-poin penting pasca-acara. Catatan utama menunjukkan bahwa aspek koordinasi dan komunikasi antarpanitia menjadi hal paling krusial yang harus diperbaiki untuk pelaksanaan kegiatan di masa mendatang.
Andini menegaskan bahwa ukuran kesuksesan bazar dikembalikan lagi kepada kenyamanan dan kepuasan para peserta serta pengunjung yang terlibat, sekaligus membawa harapan besar bagi masa depan wirausaha di lingkungan kampus.
“Komunikasi panitia ke depannya harus diperbaiki. Berhasil atau tidaknya tergantung pada peserta bazar. Harapannya, semoga kegiatan ini dapat berlanjut setiap tahunnya, sehingga mahasiswa FIB semakin termotivasi untuk menjadi wirausahawan muda yang kreatif dan mandiri,” pungkasnya.