Admin

23 Oct 2026

1 melihat

Pelatihan Mahasiswa (Memasak dan Merasa: Menelaah Semantik Kognitif melalui Pengalaman Kuliner)

Pelatihan Mahasiswa (Memasak dan Merasa: Menelaah Semantik Kognitif melalui Pengalaman Kuliner)

SAMARINDA – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman kembali menghadirkan program pembelajaran akademik yang kreatif dan interdisipliner melalui kegiatan kuliah tamu dan pelatihan mahasiswa bertajuk "Memasak dan Merasa: Menelaah Semantik Kognitif melalui Pengalaman Kuliner". Acara ini sukses diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertempat di Aula FIB, mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai.

Kegiatan yang diikuti dengan penuh antusias oleh para mahasiswa ini menghadirkan seorang seniman performans, juru masak, sekaligus penggagas platform Lelaki Dapur, yakni Maulana Yudhistira. Melalui sesi yang interaktif, narasumber membedah bagaimana makanan bukan sekadar sesuatu yang dikonsumsi, melainkan sesuatu yang diingat, ditafsirkan, dan diceritakan lewat jalinan bahasa.

Dari Rasa Menuju Makna: Menghubungkan Kuliner dan Linguistik Kognitif

Dalam pemaparannya, Maulana Yudhistira mengajak sivitas akademika melihat hubungan erat antara pengalaman indrawi (rasa, aroma, tekstur, dan suhu) dengan pembentukan makna dalam bahasa. Pendekatan ini menjadi jembatan menuju semantik kognitif—di mana makna tidak hanya tinggal di dalam kamus atau kata-kata saja, melainkan tumbuh dari pengalaman tubuh, metafora, kategori, serta konteks sosial.

"Makanan adalah cara lain untuk mengingat. Apa yang kita rasakan di lidah terhubung langsung dengan ingatan, pengetahuan, budaya, hingga lingkungan tempat kita hidup," ungkap Maulana di hadapan para mahasiswa.

Praktik Pengalaman Kuliner dan Eksplorasi Bahasa

Salah satu sesi yang paling menarik dalam pelatihan ini adalah ketika peserta diajak melakukan observasi langsung terhadap bahan pangan (seperti dalam praktik pengolahan sambal). Peserta diajak mencatat deskripsi sebelum dan sesudah bahan diolah untuk melihat bagaimana proses memasak, takaran, teknik, serta ingatan personal memengaruhi pilihan kata yang digunakan seseorang.

Melalui latihan tersebut, mahasiswa diajak mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan kritis terkait semantik:

  • Bagaimana kita menamai sensasi rasa (seperti kata tajam, hangat, atau kaya)?
  • Mengapa dua orang bisa menggunakan pilihan kata yang berbeda untuk mendeskripsikan hidangan atau rasa yang sama?
  • Bagaimana lingkungan, kearifan lokal, dan memori kolektif membentuk struktur kognisi serta ekspresi kebahasaan kita?

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu memperkaya wawasan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya—khususnya dalam melihat kajian bahasa dari sudut pandang yang lebih segar, kontekstual, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari melalui medium seni kuliner dan kebudayaan.